AMPTPI: Perlu Ada Kebijakan Pembatasan Militer di Papua


Jayapura, Jubi – Terganggunya aktivitas atas konsep roda pembangunan yang dijalankan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Papua dalam segala aspek di Papua yang terkadang masih berjalan di tempat, pasalnya masih ada aparat militer yang tidak terdata.

Hal ini disampaikan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Assosiasi Mahasiswa Pegunungan Tengah Papua se Indonesia (DPW-AMPTPI) Indonesia Timur, Natan Naftali Tebai. Dia juga meminta agar Pemerintah Provinsi Papua mengevaluasi kinerja dari militer.
“Saya sampaikan dengan hormat kepada pak Gubernur, DPRP dan MRP bahwa segera evaluasi kinerja militer di Papua. Karena, keberadaan TNI, Polri dan militer yang lainnya di tanah Papua ini justru mengganggu kelancaran pembangunan dalam segala aspek,” kata Natan Naftali Tebai di Kota Jayapura, Senin (31/8/2015).
Natan mengatakan, pihak Pemerintah Provinsi Papua (Pemprov) agar segera lahirkan kebijakan perdasus atau perdasi tentang pembatasan militer di Papua. “Memang dalam pantauan kami selama ini militer organik dan non organik yang saat ini ada di Papua tidak pernah didata oleh Gubernur, DPRP dan MRP,” tutur Tebai.
Dengan tidak didata oleh pihak Pemprov kata dia mengakibatkan kekerasan terus merajalela di tanah Papua. “Segera hentikan kekerasan, pembunuhan dan penembakan yang menimpa anak-anak sekolah, mahasiswa dan pemuda di tanah Papua. Semua yang generasi harapan bangsa Papua ini diburuh habis bagaikan kus-kus di hutan,” ucapnya.
Ia juga meminta, pernyataan dari Pangdam XVII/Cenderawasih untuk melakukan proses hukum kepada pelaku penembakan di Timika harus benar-benar terlaksana, agar semboyan TNI ‘Kasih dan Damai Itu Indah’ itu dirasakan oleh seluruh elemen di bumi Cenderawasih ini.
“Kami (AMPTPI) himbau seleuruh elemen rakyat dan LSM kawal kasus Timika, Paniai, Dogiyai, Yahukimo dan keseriusan Pangdam yang baru untuk adil dan memecat dua anggota TNI di Timika,” katanya harap.
Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Adat Majelis Rakyat Papua (MRP), Yakobus Dumupa menegaskan, manusia berasal dari Allah, Sang Pencipta menanggapai insiden penembakan dua warga sipil di Timika oleh oknum TNI Jumat pekan lalu.

“Jika diyakini bahwa yang menciptakan manusia adalah Allah, pertanyaanya adalah mengapa manusialah yang merasa berhak membunuh manusia?,” kata Dumupa, di Abepura, Kota Jayapura, Senin (31/8/2015). (Abeth You)
Sumber: http://www.tabloidjubi.com

Advertisements

About AnakPapua

Anak Papua Yang Siap Untuk Papua
This entry was posted in Tak Berkategori. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s